Program Smart Vertical Agriculture Hasil Penelitian FIK UBL-ITB

Share

MEMBANGGAKAN: Mahasiswa FIK UBL memamerkan program Smart Vertical Agriculture (SVA) di salah satu pameran di Bandung belum lama ini

Harianekspres.cim – budi daya tanaman dengan teknik hidroponik atau bercocok tanam tanpa
menggunakan media tanah bakal semakin mudah. Fakultas Ilmu Komputer Universitas
Bandar Lampung (FIK UBL) bekerja sama Institut Teknologi Bandung (ITB) berhasil
menciptakan Smart Vertical Agriculture (SVA) yang dapat diaplikasikan untuk
memantau tanaman hidroponik. Seperti apa?
SEORANG pria menyambut saat Radar Lampung menginjakkan kaki di ruangan
Marketing, Humas, dan Kerja Sama UBL kemarin. Pria yang mengenakan baju silver
dipadu celana dan topi warna senada ini sekilas seperti seorang mahasiswa.
Belakangan baru diketahui, dia adalah Dekan FIK UBL Ahmad Cucus, S.Kom., M.Kom.

Dengan ramah, dia menyapa. Dari penjelasannya, Radar mengetahui bahwa FIK UBL
bekerja sama dengan ITB tengah mengembangkan ide SVA yang disebut-sebut sebagai
solusi masyarakat urban. Cucus –sapaan akrabnya– mengaku dengan program ini,
seorang pembudi daya tanaman hidroponik bisa memantau tumbuh kembang tanamannya
melalui website.

Agar lebih jelas, Cucus mengajak Radar mengunjungi laboratorium FIK UBL yang
berada di belakang gedung Rektorat UBL. Sepanjang perjalanan, Cucus
menceritakan, SVA merupakan salah satu ide penelitian dosen dan mahasiswa dari
program kerja sama FIK UBL dengan Laboratorium Sistem Kendali Kontrol (LSKK)
ITB. ’’SVA ini menjadi tugas akhir untuk mahasiswa UBL semester V dan VI dalam
program jaringan antarkampus,” katanya.

Program ini, terangnya, lantas diajukan ke Kementrian Riset Teknologi dan
Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Karena dinilai unik, program ini diganjar
dua dana hibah Kemenristekdikti masing-masing sebesar Rp90 juta.
Secara garis besar, lanjut Cucus, program SVA ini bertujuan untuk memudahkan
pembudidaya tanaman hidroponik melalui kemajuan teknologi. Melalui SVA yang
prototipe tengah disiapkan ini, tumbuh kembang tanaman hidroponik dapat
dipantau langsung melalui situs online UBL yakni hidroponik.ubl.ac.id.

Jadi dengan SVA ini, pemilik tanaman tak perlu lagi mengawasi tanaman secara
khusus karena seluruhnya sudah dikerjakan oleh mesin. Contohnya saja, jika
nutrisi tanaman dinilai kurang oleh sistem komputer, maka mesin secara otomatis
akan langsung menambahnya sesuai dengan standar baku yang dibutuhkan tanaman.
Demikian pula ketika tingkat keasaman air berubah. Mesin juga akan langsung
menetralkannya. Termasuk juga memantau perubahan suhu pada tanaman. Bila dirasa
terlalu panas atau dingin, maka mesin akan bekerja untuk menstabilkannya.

Tidak hanya itu, SVA juga mampu memprediksi hasil dan waktu panen. Hebatnya
lagi, semua hal ini bisa langsung dipantau melalui sebuah website. Sehingga
tingkat keberhasilan budidaya tanaman hidroponik lebih besar.

Menurut Cucus penelitian itu sebenarnya dilaksanakan di ITB Bandung. Tahapan
dimulai dengan mempersiapkan perangkat aplikasi. Secara umum program ini
mengandalkan software yang disebut autonomous artin. Melalui software ini,
perangkat media yang dipasang pada tanaman hidoponik dapat terus memantau dan
mengoneksikannya dengan website UBL yakni hidroponik.ubl.ac.id.Prototipe itu,
lanjut Cucus, ditargetkan rampung pada akhir Februari mendatang. Aplikasi ini
bakal diterapkan di Kawasan Kampung Wisata Agrowidya Lampu Kita yang merupakan
program corporate social responsibility (CSR) PLN Peduli dengan UBL di
Kelurahan Sinarharapan, Rajabasajaya, Rajabasa, Bandarlampung.

Radar sempat membuka website tersebut. Sejumlah fitur tampilan muncul disana.
Untuk mengaktifkan, SVA ini, calon pengguna memang harus membeli perangkat
terlebih dahulu. Tanpa membeli, pengguna hanya dapat melakukan login namun
tidak dapat mengggunakan program itu sepenuhnya. Pengguna yang tidak membeli
program SVA ini, hanya sebatas melakukan tanya jawab di website tersebut.

Selain fitur pembelian, di website itu juga terdapat pilihan member location,
logistic, dan hidroponik. Setiap fitur memiliki fungsi berbeda. Melalui fitur
logistic misalnya. Pengguna, dapat langsung melihat tumbuh kembang tanaman
mereka melalui website.

Ke depan, Cucus mengaku akan mencoba mengaplikasikan program ini menjadi
semacam game online. ’’Ke depan kami mempunyai ide menciptakan game online
tanaman hidroponik ini. Jadi masyarakat yang belum terjun langsung ke pertanian
hidroponik bisa mencobanya melalui game online ini,” harapnya

Editor(Juanda)


Share

Related Post

Leave a reply