Pengunjung Nekat Pegang Lukisan Bung Karno Meski Ada Larangan

Share

 

Harianekspres.com – Tingginya rasa penasaran pada fenomena detak jantung di lukisan Bung Karno, membuat banyak pengunjung Perpustakaan Nasional Bung Karno Blitar melanggar aturan.

Banyak diantara mereka yang nekad memegang benda koleksi itu walaupun terdapat tulisan “Dilarang Menyentuh Lukisan” yang tertempel di bagian bawah semua benda koleksi Perpusnas BK itu.

“Semua tempat dimana ada koleksi benda bersejarah punya aturan itu. Tidak hanya dilarang menyentuh atau memegang, bahkan juga dilarang keras memotret menggunakan blitz,” jelas Staf Koleksi Khusus Bung Karno Perpusnas BK, Budi Kastowo pada detikcom, Sabtu (4/2/2017).

Larangan ini lanjut Budi, demi untuk menjaga kebersihan dan awetnya benda koleksi bersejarah. Karena keringat pada tangan manusia, rentan membawa jamur yang sangat mudah berkembang pada benda yang disimpan di dalam ruangan.

“Kalau untuk memotret memang dilarang menggunakan cahaya, karena pantulan sinar cahaya kamera akan mempercepat pudarnya warna natural terutama pada bahan kain seperti lukisan Bung Karno ini,” tambahnya.

Budi juga menambahkan, bahkan untuk beberapa item koleksi bersejarah ada larangan mengambil gambar dalam format apapun untuk menghindari plagiasi. Namun untuk Perpusnas BK aturan itu tidak diterapkan.

“Koleksi disini lebih bersifat mengedukasi, jadi semakin banyak orang tahu malah semakin baik,” katanya.

Untuk lebih memperketat pengawasan pada lukisan Bung Karno yang membuat penasaran pengunjung itu, pengelola Perpusnas BK sengaja memajangnya tepat sebelah kanan di dekat meja resepsionis.

“Sengaja kami pajang disini, supaya selalu bisa diawasi petugas yang berjaga selama tempat ini dibuka, karena walaupun sudah ada tulisan peringatan tetap saja ada yang penasaran berusaha memegangnya,” jelas Budi.

Selain dipajang dekat meja resepsionis, pengamanan tambahan juga dipasang rantai pengaman yang jaraknya satu meter dari tempat berdirinya lukisan.Editor – Windy Safitri


Share

Related Post

Leave a reply