Para Penyair Refleksikan Gempa Aceh dengan Puisi

Share

Pentas musikalisasi puisi Refleksi Gempa Aceh, 21 Januari 2017

Harianekspres.com – Sejumlah penyair Indonesia meramaikan acara Refleksi Gempa Aceh di
Boulevard Coffee & Resto, Apartemen The Boulevard, Jalan H. Fachruddin
No. 5 Tanah Abang (Samping Hotel Millenium), Jakarta Pusat, Jumat malam
lalu. Sebelum baca puisi, acara itu ditandai dengan peluncuran buku
puisi gempa Aceh karya sekitar 150 penyair, seniman dan masyarakat
Nusantara berjudul 6,5 SR Luka Pidie Jaya.

Para penyair tidak hanya berasal dari Jakarta, tetapi juga datang dari
dari Kepulauan Riau (Rida K Liamsi) dan Banjarmasin (Zulfaisal Putera).
Penyair yang berdomisili di Jabotabek yang hadir antara lain Ahmadun
Yosi Herfanda, Eka Budianta, Kurnia Effendi, Fikar W Eda, J Kamal
Farza, Ace Sumanta, Siwi Widjajanti, Edrida Pulungan, Edi Prambuane,
Tora Kundera, dan lain-lain.

“Kehadiran saya ini semacam membayar utang. Beberapa bulan lalu saya
berjanji untuk hadir saat acara sastra di Aceh, tapi tiba-tiba
berhalangan,” ujar Zulfaisal.

Peluncuran ditandai dengan penyerahan buku puisi itu oleh penyusun buku
(Willy Ana) dan editor (Mustafa Ismail) kepada sejumlah tokoh yakni
Kepala Perwakilan Aceh Badri Ismail, Muhammad Nazar (mantan Wakil
Gubernur Aceh), Munawar Ibrahim (Kepala Bappeda Pidie Jaya), Ifdal
Kasim (Staf Ahli Deputi V Kantor Staf Presiden dan Mantan Ketua Komnas
HAM), Teuku Nausa (pengusaha Aceh di Jakarta), dan tiga penyair yakni
Ahmadun Yosi Herfanda, Rida K Liamsi, dan Zulfaisal Putera.

Kordiantor acara, yang juga penyusun buku ini, Willy Ana, menjelaskan
buku setebal 246 halaman ini berisi karya 152 penyair dan masyarakat
umum, termasuk dari Malaysia. Selain nama-nama di atas, ada D
Kemalawati, Din Saja, Fakhrunnas MA Jabbar, Handry TM, Jumari HS, Gol A
Gong, Nelson Dino (Malaysia), Sihar Ramses Simatupang, Endang Supriadi,
Syarifuddin Arifin, Alizar Tanjung, Sulaiman Juned, Sulaiman Tripa,
Teja Alhabd, Teuku Dadek, Mezra E Pellondou, dan lain-lain.

“Respon para penyair sangat luar biasa terhadap kegiatan ini,” ujar
Willy Ana. Prediksi awal buku itu paling tebal 180 halaman. Tapi, dalam
perjalanan, tebal buku itu sudah mencapai 246 halaman. “Ini apresiasi
dan tanda simpati yang luar biasa dari masyarakat Indonesia terhadap
Aceh,” tambah penulis buku puisi Tabot: Aku Bengkulu itu.

Bahkan, menurut penyair asal Bengkulu ini, para penyair, seniman dan
masyarakat Nusantara tak hanya menulis puisi, melainkan juga ikut serta
gotong royong untuk membiayai penerbitan buku dengan cara membeli buku
tersebut sesuai kemampuan mereka.

Selain peluncuran buku, acara itu akan diisi dengan baca puisi,
testimoni gempa, lelang buku untuk korban gempa. Testimoni dan refleksi
gempa disampaikan oleh Kepala Bappeda Pidie Jaya Munawar Ibrahim,
Muhammad Nazar dan mantan komisioner Komnas HAM, Ifdal Kasim.

Willy Ana mengatakan selain donasi yang terkumpul dalam acara itu,
keuntungan dari penjualan buku akan disampaikan kepada korban gempa dan
kegiatan-kegiatan yang ada kaitannya dengan gempa tersebut.

“Kami berencana untuk datang ke sekolah-sekolah di lokasi gempat untuk
menghibur anak-anak yang trauma dengan berpuisi, baik dengan mengajak
mereka membaca puisi maupun menulis puisi,” tutur Willy.

Editor buku itu, Mustafa Ismail, mengatakan puisi-puisi dalam buku itu
merefleksikan kata hati, pesan, keinginan dan harapan masyarakat
Indonesia, terutama penyair, terhadap korban gempa Aceh dan Aceh itu
sendiri. “Kepedulian itu tidak hanya dengan bantuan berbentuk benda dan
uang. Puisi-puisi yang ada dalam buku ini menunjukkan kepedulian yang
tak ternilai harganya,” ujar penyair asal Trienggadeng yang sehari-hari
bekerja di Jakarta itu.

Teuku Nausa, pemilik Boulevard Coffee, yang memfasilitasi peluncuran
itu sangat senang tempatnya dijadikan tempat acara tersebut. Bahkan ia
berkomitmen sebagian keuntungan dari penjualan minuman dan makanan di
cafenya pada saat acara berlangsung akan disumbangkan untuk korban
gempa. “Nanti kita hitung sama-sama berapa jumlahnya,” kata pengusaha
asal Aceh itu. “Kami akan membantu acara itu agar berjalan dengan
lancar dan sukses.”

J Kamal Farza, Ketua Komunitas Kuah Beulangong, yang ikut menjadi
pendukung acara itu mengjak masyarakat Aceh di Jakarta dan sekitarnya
untuk bisa sama-sama berdoa sekaligus terus melakukukan sesuatu untuk
korban bencana di Aceh tersebut. “Kita harus terus memberi perhatian
untuk mereka. Karena luka mereka belum sembuh,” ujar penyair yang juga
menulis puisi di buku “6,5 SR Luka Pidie Jaya” tersebut.

Selain Imaji Indonesia, Ruang Sastra, Boulevard Coffee, dan Komunitas
Kuah Beulangong, acara ini didukung oleh banyak komunitas seni lainnya
seperti portal sastra infosastra.com, litera.co.id, Komunitas
Musikalisasi Indonesia, Sanggar Matahari, Poros Selatan, Aceh Culture
Centre, dan lain-lain.

Editor(Juanda)


Share

Related Post

Leave a reply