Menanti SBY Bersikap sebagai Negarawan

Share

 

Susilo Bambang Yudhoyono memberikan pernyataan pers soal dugaan penyadapan percakapan telepon dirinya dengan Ketum MUI KH Ma’ruf Amin di Wisma Proklamasi, Jakarta, Rabu (1/2/2017).

Harianekspres.com – Jakarta — Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku presiden keenam RI seharusnya bisa bersikap sebagai negarawan. Kebiasaannya menumpahkan curahan hati (curhat) melalui akun Twitter @SBYudhoyono telah meruntuhkan kredibilitas SBY yang juga Ketua Umum Partai Demokrat.

Pakar politik Universitas Indonesia Arbi Sanit mencontohkan Bill Clinton dan Barack Obama yang tampil elegan setelah purnatugas sebagai presiden Amerika Serikat. SBY yang merupakan produk pemilihan langsung sebenarnya bisa menerapkan hal tersebut di Indonesia.

“Setelah tak lagi menjadi presiden, kenegarawanan SBY merosot tajam. Dia menjadi politikus yang tidak ada bedanya dengan siapa pun di Parlemen sana,” kata Arbi saat berbincang-bincang dengan Media Indonesia di Jakarta, Rabu 8 Februari 2017.

Kasus terbaru yang menjadi sorotan pengamat politik senior itu ialah ketika SBY menyampaikan curhat tentang demonstrasi mahasiswa di rumah baru miliknya yang diberikan negara di Jalan Mega Kuningan Timur VII, Jakarta Selatan, Senin 6 Februari.

‘Saya bertanya kpd Bapak Presiden & Kapolri, apakah saya tidak memiliki hak utk tinggal di negeri sendiri, dgn hak asasi yg saya miliki? *SBY*’

Menurut Arbi, SBY sebaiknya langsung melaporkan demonstrasi tersebut ke aparat penegak hukum ketimbang berkeluh kesah di media sosial. “Di situ yang saya sayangkan. Buktinya, didemo bukannya mengadu ke polisi, malah mengeluh di media sosial,” lanjut dia.

Ia menduga SBY memang sengaja melakukan itu untuk menarik simpati masyarakat. Pasalnya, Partai Demokrat dan tiga partai politik lain sedang mati-matian memenangkan calon gubernur Agus Harimurti Yudhoyono di Pilkada DKI Jakarta 2017.

“Media sosial itu kan politik menarik simpati. Kan dia sayang anak, itu persoalannya. Sayang anak itu menyebabkan dia kehilangan pamor sejarah kebesarannya. Mendidik dengan harus menang dengan cara apa pun, seharusnya menang dengan fair,” paparnya.

Memancing Polemik

Pakar komunikasi politik UIN Syarif Hidayatullah, Gun Gun Her-yanto, sepakat bahwa SBY seharusnya menghentikan curhat di media sosial ataupun lewat konferensi pers. Selain demi mempertahankan sifat kenegarawanan dia, sambung Gun Gun, curhat SBY malah berpotensi memancing beragam polemik.

“Menurut saya, baiknya curhat di media sosial oleh Pak SBY itu tidak usah diteruskan. Makin sering curhat malah berpotensi memancing beragam polemik, rumor, gosip, dan lain-lain,” ujar Gun Gun.

Menurutnya, jika SBY merasa ada yang salah, seharusnya yang bersangkutan menempuh langkah konkret. Ia menilai SBY bisa memecahkan masalah yang dihadapi dengan menempuh beberapa upaya termasuk langkah hukum.

Ketika SBY tidak mengambil upaya hukum, curhat itu patut diduga terkait dengan political game. “Kalau hanya curhat, itu multitafsir. Sebaiknya melapor agar tidak jadi political game dan mengambangkan maksud di tengah suasana politik yang tengah memanas,” imbuhnya.

Sementara itu, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan seorang mantan presiden mendapatkan perlindungan dari negara, bahkan bisa dikawal 60 personel Pasukan Pengamanan Presiden. “Iya, (perlindungan itu ada) sesuai aturan,” kata Kalla.

Hal tersebut sekaligus menepis keresahan SBY yang didemo ratusan mahasiswa. Namun, Kalla berharap aksi tersebut tidak terulang. Apalagi, mahasiswa menyampaikan aspirasi yang tidak relevan terhadap apa yang telah dilakukan Yudhoyono.

“Kalau saya baca itu tidak relevan dengan Pak SBY, tentang SARA. Kan SBY tidak berbicara hal itu, jadi kenapa di situ itu pertanyaan juga, isunya tidak ada Pak SBY malah,” kata Kalla seusai membuka Rakornas Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional di Jakarta.

Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf mengatakan unjuk rasa yang terjadi di kediaman SBY bernuansa politik lantaran Agus maju dalam pilkada. Hal senada disampaikan Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR Benny K Harman

Di acara Dies Natalis Partai Demokrat kemarin, SBY menyampaikan pidato politiknya. Ia menyinggung soal keresahan masyarakat.

“Anggap saja ini adalah wake up call. Kita harus bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu,” tegasnya.

Editor(CindyIryani)


Share

Related Post

Leave a reply